al-Masih: “Sesungguhnya aku adalah HAMBA Allah Ta’ala”
0Assalaamu’alaykum Warohmatullohi Wabarokatuh.
Sahabat muslim yang saya mulyakan, sebagaimana ajaran ketauhidan kita di dalam beragama, bahwa Rabb kita, Allah Subhanahu wata’aala adalah Tunggal, Esa dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Itulah kebenaran yang hakiki dalam kita bertauhid.
Lantas, bagaimanakah jika ada seseorang atau sekelompok manusia yang mengatakan bahwa Allah adalah satu dari tiga? Allah menerangkan dalam surat Al-Maidah ayat 72-75 bahwa benar-benar kafirlah orang yang mengatakan Allah itu satu dari tiga.
Continue reading “al-Masih: “Sesungguhnya aku adalah HAMBA Allah Ta’ala”” »
Tafsir Surat Al Faatihah (Bagian 7 dari 14)
0Segala Puji Bagi Allah, kami memujiNya, meminta kepadaNya, dan memohon ampun kepadaNya serta kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kami serta keburukan amal perbuatan kami. Barang siapa yang Allah beri petunjuk maka tiada yang dapat menyesatkannya, dan barang siapa yang Allah sesatkan, karena dia tidak mau mendapat petunjuk, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk. Kami bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah yang tidak ada sekutu bagiNya dan kami bersaksi bahwa sesungguhnya Muhammad صَلَّىاللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ adalah hamba dan RasulNya.
Sebelum mengakhiri pembahasan ayat pertama surat Al Faatihah Imam Ibnu Katsir menambahkan pembahasan terkait keutamaan basmalah. Selain itu beliau sedikit mengupas terkait makna kata الله. Apa saja yang menjadi keutamaan basmalah serta makna kata الله, berikut penjelasan Imam Ibnu katsir رَحِمَهُ اللهُ dalam kitab tafsir beliau.
Continue reading “Tafsir Surat Al Faatihah (Bagian 7 dari 14)” »
Tafsir Surat Al Faatihah (Bagian 5 dari 14)
0Segala Puji Bagi Allah, kami memujiNya, meminta kepadaNya, dan memohon ampun kepadaNya serta kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kami serta keburukan amal perbuatan kami. Barang siapa yang Allah beri petunjuk maka tiada yang dapat menyesatkannya, dan barang siapa yang Allah sesatkan, karena dia tidak mau mendapat petunjuk, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk. Kami bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah yang tidak ada sekutu bagiNya dan kami bersaksi bahwa sesungguhnya Muhammad صَلَّىاللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ adalah hamba dan RasulNya.
Sobat Muslim, setelah Imam Ibnu Katsir menjelaskan tentang hukum isti’adzah, kemudian beliau melanjutkan dengan penjelasan arti kata tersebut serta terhadap apakah kita berlindung dengan kalimat ini. Disini beliau juga menjelaskan arti kata شَيْطَنَ atau syaitan tersebut. Mudah-mudahan bermanfaat.
Pengertian Isti’adzah
Isti’adzah (الإِسْتِعَاذَةُ) berarti memohon perlindungan kepada Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَلَى dari kejahatan setiap yang jahat. Kata “العِيَاذَةُ” menunjukkan (permohonan pertolongan) dalam usaha menolak kejahatan, sedangkan “اللِّيَاذُ” menujukkan (permohonan pertolongan) dalam upaya memperoleh kebaikan.
Adapun makna “أَعُوْذُبِااللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ” adalah, aku memohon perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk agar ia tidak membahayakan diriku dalam urusan agama dan duniaku. Atau menghalangiku untuk mengerjakan apa yang telah Dia perintahkan dan menyuruhku mengerjakan apa yang Dia larang, karena tidak ada yang mampu mencegah godaan syaitan itu kecuali Allah.
Continue reading “Tafsir Surat Al Faatihah (Bagian 5 dari 14)” »
Tafsir Surat Al Faatihah (Bagian 4 dari 14)
0Segala Puji Bagi Allah, kami memujiNya, meminta kepadaNya, dan memohon ampun kepadaNya serta kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kami serta keburukan amal perbuatan kami. Barang siapa yang Allah beri petunjuk maka tiada yang dapat menyesatkannya, dan barang siapa yang Allah sesatkan, karena dia tidak mau mendapat petunjuk, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk. Kami bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah yang tidak ada sekutu bagiNya dan kami bersaksi bahwa sesungguhnya Muhammad صَلَّىاللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ adalah hamba dan RasulNya.
Jika sebelumnya dibahas tentang keutamaan surat Al Faatihah kali ini terkait iti’adzah, pengertian dan hukum-hukumnya. Imam Ibnu Katsir disini membahas tafsir isti’adzah, selain itu beliau juga membahas bagaimana hukum makmum membaca isti’adzah di dalam sholat berjamaah. Berikut penjelasan imam Ibnu Katsir terkait isti’adzah atau ucapan أَعُوْذُبِااللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. Continue reading “Tafsir Surat Al Faatihah (Bagian 4 dari 14)” »
Tafsir Surat Al Faatihah (Bagian 3 dari 14)
0Segala Puji Bagi Allah, kami memujiNya, meminta kepadaNya, dan memohon ampun kepadaNya serta kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kami serta keburukan amal perbuatan kami. Barang siapa yang Allah beri petunjuk maka tiada yang dapat menyesatkannya, dan barang siapa yang Allah sesatkan, karena dia tidak mau mendapat petunjuk, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk. Kami bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah yang tidak ada sekutu bagiNya dan kami bersaksi bahwa sesungguhnya Muhammad صَلَّىاللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ adalah hamba dan RasulNya.
Sebagai kelanjutan dari penjelasan terkait keutamaan surat al Faatihah, juga kandungan hadist sebelumnya, Imam Ibnu Katsir juga membahas terkait hukum membaca surat al Faatihah dalam shalat. Berikut kelanjutan pembahasan Imam Ibnu Katsir tekait keutamaan surat al Faatihah. Continue reading “Tafsir Surat Al Faatihah (Bagian 3 dari 14)” »
Tafsir Surat Al Faatihah (Bagian 2 dari 14)
0Segala Puji Bagi Allah, kami memujiNya, meminta kepadaNya, dan memohon ampun kepadaNya serta kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kami serta keburukan amal perbuatan kami. Barang siapa yang Allah beri petunjuk maka tiada yang dapat menyesatkannya, dan barang siapa yang Allah sesatkan, karena dia tidak mau mendapat petunjuk, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk. Kami bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah yang tidak ada sekutu bagiNya dan kami bersaksi bahwa sesungguhnya Muhammad صَلَّىاللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ adalah hamba dan RasulNya.
Setelah pada artikel sebelumnya dijelaskan tentang penamaan surat al Faatihah, maka kali ini kita akan menurunkan penjelasan dari Imam Ibnu Katsir terkait keutamaan surat Al Faatihah. Pada penjelasan ini beliau membawakan sebuah hadist yang menyebutkan bahwa Allah عَزَوَجَلَّ membagi surat ini untuk Allah dan untuk hambaNya. Bagaimanakah pembagian tersebut? Berikut penjelasan al Imam Ibnu Katsir dalam menjelaskan keutamaan surat ini. Continue reading “Tafsir Surat Al Faatihah (Bagian 2 dari 14)” »
Tafsir Surat Al Faatihah (Bagian 1 dari 14)
0Segala Puji Bagi Allah, kami memujiNya, meminta kepadaNya, dan memohon ampun kepadaNya serta kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kami serta keburukan amal perbuatan kami. Barang siapa yang Allah beri petunjuk maka tiada yang dapat menyesatkannya, dan barang siapa yang Allah sesatkan, karena dia tidak mau mendapat petunjuk, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk. Kami bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah yang tidak ada sekutu bagiNyam dan kami bersaksi bahwa sesungguhnya Muhammad صَلَّىاللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ adalah hamba dan RasulNya.
Sobat muslim, pembahasan selanjutnya yang akan diangkat adalah mengenai sebuah surat yang setiap muslim wajib membacanya sekurang-kurangnya 17 kali dalam sehari, sebuah surat yang pertama dalam Al Qur’an serta bisa menjadi penyembuh penyakit, sebagaimana akan dijelaskan oleh al Imam Ibnu Katsir. Sebelum mulai membahas tafsir ayat per ayat, Imam Ibnu Katsir memulainya dengan memberikan beberapa pengantar, yang kami susun menjadi 5 artikel. Tulisan kali ini akan memberikan pendahuluan sebelum mulai membahas surat Al Faatihah. Berikut pendahuluan al Imam Ibnu Katsir sebelum beliau memulai pembahasan tafsir ayat per ayat dari surat al Faatihah. Continue reading “Tafsir Surat Al Faatihah (Bagian 1 dari 14)” »
Perintah Meninggalkan Keturunan Dalam Keadaan Kaya????
2Segala Puji Bagi Allah, kami memujiNya, meminta kepadaNya, dan memohon ampun kepadaNya serta kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kami serta keburukan amal perbuatan kami. Barang siapa yang Allah beri petunjuk maka tiada yang dapat menyesatkannya, dan barang siapa yang Allah sesatkan, karena dia tidak mau mendapat petunjuk, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk. Kami bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah yang tidak ada sekutu bagiNya dan kami bersaksi bahwa sesungguhnya Muhammad Shallahu’alaihi wa Sallam adalah hamba dan RasulNya.
Sobat muslim, kita temui pada hari-hari ini sebagian manusia yang mengajak manusia agar bekerja dan menjadi kaya. Pada dasarnya bekerja memang merupakan sebuah kewajiban laki-laki untuk memenuhi kebutuhan hidup orang-orang yang menjadi tanggungannya. Namun tujuan bekerja bukanlah agar kita kaya. Mereka menyebutkan jika kita kaya maka kita akan bisa bersedekah dengan menggunakan harta-harta yang kita miliki dan kita bisa memajukan perekonimian islam, sehingga tidak bergantung dengan sistem-sistem ribawi yang membelit kita saat ini.
Bukankah dahulu Rasulullah shallahu’alaihi wa Sallam tidak pernah memerintahkan hal ini. Bukankah para sahabat radhiallahu’anhum tidak pernah berlomba-lomba mencari kekayaan agar bisa bersedekah, namun mereka radhiallahu’anhum berlomba-lomba beramal dengan apa yang mereka miliki. Sebagian orang tersebut menggunakan dalil surat an Nisaa ayat 9 untuk mendukung ucapan mereka bahwa kita harus kaya sehingga tidak meninggalkan anak keturunan kita dalam keadaan miskin. Benarkah ayat tersebut berisi perintah seperti itu. Mari kita simak penafsiran Imam Ibnu Katsir dalam terhadap surat an Nisaa ayat 9 dan 10, semoga bermanfaat. Continue reading “Perintah Meninggalkan Keturunan Dalam Keadaan Kaya????” »



